Pada tulisan sebelumnya, saya menceritakan cara saya
mendapatkan letter of acceptance sebagai
‘tiket’ masuk dalam konferensi Internasional. Sekarang, saya akan bercerita
seputar konferensi yang saya ikuti dan cara saya berangkat ke negara tersebut.
Ngomong-ngomong tentang konferensi,
konferensi adalah pertemuan yang berfungsi sebagai forum untuk bertukar
pendapat mengenai suatu masalah yang sedang dihadapi bersama. Saya mahasiswa
kesehatan, jadi konferensi yang saya hadiri merupakan konferensi kesehatan. Universitas
Gadjah Mada Indonesia, Prince of Songkhla University Thailand, dan Universiti
Kebangsaan Malaysia bekerja sama untuk mengadakan konferensi setiap tahunnya
dan tahun ini diselenggarakan oleh Prince of Songkhla University, Thailand.
Konferensi tahunan ini bernama The 11th
Post Graduate Forum on Health System and Policy dengan tema Integrated Health System and Policy for
Sustainable Development Goal.
Setelah pengumuman penerimaan abstrak saya terima melalui e-mail, saya sampaikan informasi
tersebut ke tim saya. Tim saya beranggotakan empat orang, termasuk saya. Latar
belakang pendidikan kesehatan kami juga berbeda-beda, yaitu Kebidanan, Farmasi,
dan Kedokteran Gigi. Abstrak yang kami kirim saat itu menuliskan tentang
program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang kami laksanakan di Pulau Rote, Nusa
Tenggara Timur. Pulau Rote merupakan pulau paling selatan di Indonesia yang
berbatasan langsung dengan laut lepas Indonesia-Australia. Kami melaksanakan KKN
di sana selama 7 minggu, tepatnya di Desa Te Bole, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten
Rote Ndao.
Desa Te Bole merupakan desa yang sangat terpencil dengan
akses menuju kota yang susah dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam jika kecepatan
kendaraan kita 40-60 km/jam. Di desa tersebut tidak terdapat aliran listrik. Sinyal
telepon hanya tersedia untuk operator tertentu dan hanya ada di beberapa titik.
Pasokan air bersih di desa ini tidak merata, hanya di satu dusun saja air
mengalir dengan lancar. Di samping itu, dari sisi kesehatan, akses para
penduduk ke tenaga kesehatan juga tidak mudah. Bahkan, tenaga kesehatan yang
ada di puskesmas pembantu hanya berada di puskemas tersebut setiap hari
Senin-Kamis jam 09.00-12.00 WITA. Sehingga, kami membuat program berupa
pemeriksaan kesehatan bekerja sama dengan puskesmas setempat, pembagian
vitamin, dan kunjungan ke rumah ibu-ibu hamil di desa tersebut (home care).
Nah, garis besar informasi
di atas kami tuangkan dalam proposal pengajuan dana. Proposal pengajuan dana
tersebut kami susun dan kami ajukan ke beberapa pihak, seperti program studi,
fakultas, universitas, dan sponsor. Tujuannya adalah untuk membantu pendanaan
kami agar kami bisa berangkat ke Thailand membawa nama Universitas Gadjah Mada
dan Indonesia. Jangan salah, kami tidak hanya mengandalkan bantuan dana dari
pihak luar. Beberapa bulan sebelumnya, kami mulai menabung sebagai bentuk antisipasi
jika kesibukan-kesibukan akademik membuat kami tidak memiliki waktu luang untuk
mencari bantuan dana lebih banyak.
Setelah proposal disetujui, kami mulai melakukan pemesanan
tiket keberangkatan dan kepulangan, tempat tinggal saat di sana, dan menyusun itinerary selama di Thailand baik
sebelum dan sesudah kegiatan konferensi. Oh ya, kami memanfaatkan situs
pemesanan tiket online untuk membeli
tiket tersebut. Tidak satu pun dari kami, orang tua, atau saudara dekat kami
memiliki kartu kredit, sehingga kami menukarkan uang rupiah kami dalam bentuk
THB dan USD dalam jumlah tertentu untuk transaksi selama di sana.
Tidak hanya dari segi dana, persiapan kami meliputi poster
ilmiah yang akan kami presentasikan di forum tersebut. Sehingga kami belajar
menyusun poster ilmiah dengan membaca teori yang mendukung program kami dari textbook, international journals, dan menuliskan hasil program yang
telah kami lakukan selama di Rote. Setelah konten poster jadi dan diberi
masukan oleh dosen yang telah me-review abstrak
kami, kami meminta bantuan teman KKN dari jurusan ilmu komunikasi untuk
mendesain poster kami agar tampilannya bagus dan menarik. Kemudian kami mencetak
poster itu pada kertas poster berukuran 1,2 m x 0,8 m.
Terakhir, kami mempersiapkan kebutuhan pribadi yang akan kami
gunakan selama di sana. Termasuk passport
yang telah kami buat jauh-jauh hari sebelumnya. Passport merupakan benda penting yang berfungsi seperti KTP jika
berada di Indonesia. Tak lupa, kami mempersiapkan batik sebagai seragam kami untuk
menunjukkan ciri khas Indonesia (ini tidak wajib).
Setelah semua persiapan kami matang dan hari H tiba, kami
berangkat dari Yogyakarta menuju Jakarta dengan kereta ekonomi, turun di
stasiun Pasar Senin. Dari stasiun Pasar Senin, kami menuju Bandara Soekarno
Hatta menggunakan taksi. Dari Jakarta, Indonesia, kami naik pesawat dan transit di Kuala
Lumpur, Malaysia. Setelah itu, pesawat kami menuju ke Hat Yai, Thailand. Akhirnya,
kami tiba di Hat Yai, Thailand pada tanggal 16 Juli 2017 sekitar jam 4 P.M! By the
way, tidak ada perbedaan waktu antara Thailand dan Indonesia.
| Medical team |
| Presenting the Scientific Poster |
Komentar
Posting Komentar