Tidak pernah terbayangkan dalam masa kecil saya bahwa saya akan menempuh pendidikan kebidanan. Ketika masih kecil, saya berorientasi untuk menjadi perwira ABRI. Saya menarget diri saya untuk bisa bersekolah SMA di Magelang, Jawa Tengah. SMA Taruna Nusantara, tepatnya. Akan tetapi, keinginan itu tidak bisa saya wujudkan lantaran ayah saya tidak menginginkan anak perempuan satu-satunya bersekolah di luar kota. Pada akhirnya, saya melanjutkan sekolah di salah satu SMA favorit di daerah.
Selama SMA, saya mulai mengalami disorientasi cita-cita.
Jika ditanya apa cita-cita saya saat itu, saya tidak bisa langsung memberikan
jawaban pasti mengenai profesi yang menjadi idaman saya. Bagi saya, saat itu, cita-cita
identik dengan profesi. Semakin naik tingkatan kelas di SMA dan dituntut untuk
menentukan jurusan perkuliahan, semakin abstrak pikiran saya tentang cita-cita.
Saya hanya berpikir untuk mencari peluang diterima di universitas favorit pada
bidang ilmu yang saya suka ketika SMA.
Saya kurang suka membaca dan menghafal sesuatu. Saya lebih
suka berhitung, berlogika, dan belajar bahasa. Saya menyukai pembelajaran ilmu
praktis dengan teori yang minim. Sehingga, keinginan saya saat itu adalah bisa
melanjutkan kuliah di fakultas teknik, jurusan teknik industri. Sedangkan kota
tujuan yang saya inginkan adalah Yogyakarta. Lagi-lagi, ayah saya kurang setuju
dengan kota pilihan saya karena beliau menganggap kota ini terlalu jauh untuk belajar. Kali ini, saya tidak menghiraukan
ketidak setujuan ayah saya.
Beberapa peluang jalur strata satu (S1) di satu universitas
negeri dan dua universitas swasta di Yogyakarta saya coba. Saya mengambil
jurusan teknik industri sebagai pilihan utama. Sebagai alternatif, saya
mengambil jurusan yang di luar dugaan. Saya mengambil jurusan pendidikan dokter.
Dalam hati saya, ‘sombong sekali saya
mengambil jurusan ini hanya sebagai alternatif, padahal nilai rapor mata
pelajaran biologi pas-pasan dan banyak teman-teman yang berminat pada jurusan
ini’. Saya tidak peduli dengan itu karena yang ada dalam pikiran saya
adalah saya harus bisa diterima di universitas sebelum lulus SMA.
Disamping mencoba jalur S1, saya mencoba jalur Diploma 4 (Sarjana Terapan) yang
ditawarkan universitas favorit saya. Kebetulan, jurusan yang tersedia adalah
jurusan kebidanan. Singkat cerita, saya tidak diterima di jurusan teknik
industri dan kedokteran. Akan tetapi, saya diterima di jurusan kebidanan dengan
jalur penelusuran bibit unggul dengan menggunakan rapor disertai prestasi
selama sekolah.
Sejujurnya, di awal-awal perkuliahan, saya sempat shocked dengan dunia perkuliahan,
khususnya jurusan kebidanan. Sistem di jurusan, mata kuliah, dosen, hingga
teman-temannya cukup membingungkan bagi saya. Bagaimana tidak, saya berkuliah
di jurusan yang bukan passion saya.
100% mahasiswa bidan adalah perempuan, mata kuliah cenderung hafalan (anatomi
dan fisiologi), dosen dengan macam-macam karakter, hingga sistem perkuliahan
yang sulit diceritakan dalam bentuk tulisan.
Awalnya, saya merasa salah mengambil jurusan dan berpikir untuk meninggalkan jurusan ini
seperti teman-teman lain yang merasa tidak berada pada passionnya. Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan, saya tetap
tinggal di jurusan ini dan bertahan hingga sekarang. Kuliah, praktikum,
berkarya melalui organisasi, bermusik, belajar bahasa, dan berolah raga melalui
unit kegiatan mahasiswa, serta lokakarya dan pelatihan pengembangan diri ‘gratisan’
dari direktorat kemahasiswaan cukup bagi saya untuk merubah pola pikir saya.
Saya merasakan perubahan attitude
dalam diri sendiri. Bagi saya, lingkungan sangat berpengaruh dalam
kehidupan sosial saya. Sejujurnya, sewaktu sekolah, saya memang lebih suka
berkumpul dengan teman laki-laki, tetapi ini bukan berarti saya tidak
bersahabat dengan teman-teman perempuan. Hanya saja, saya lebih nyaman saat sharing dengan teman lelaki karena
menurut saya mereka lebih bisa terbuka, jarang marah dengan guyonan ‘receh’,
bisa memberikan sudut pandang lain dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Hal
itu mendidik saya untuk lebih berpikir logis dan meminimalisasi penggunaan
perasaan.
Jauh berbeda dengan perempuan. Bisa dibilang, perempuan
lebih perasa. Istilah populer yang digunakan di zaman sekarang, ‘senggol dikit,
baper’. Saya sempat gemas dengan perempuan-perempuan ini karena mereka cenderung nerima dan legawa dengan sistem jurusan yang kurang ideal saat itu. Akan
tetapi, dari merekalah saya belajar ‘menggunakan perasaan’ saya. Saya belajar
sisi feminim saya dengan lingkungan ini tanpa meninggalkan pola pikir saya yang
telah saya pelajari dari teman-teman lelaki saya.
Bagi saya, ilmu kebidanan merupakan ilmu yang sangat unik.
Saya menyukai musik, belajar berbahasa, dan bermain. Menurut saya, tidak perlu
sekolah formal jurusan bahasa untuk bisa berbahasa yang baik. Begitu juga
musik, tidak perlu sekolah formal di bidang seni musik agar mampu peka terhadap
nada dan memainkan alat musik. Sedangkan untuk mendalami ilmu kebidanan dan
menjadi seorang bidan diperlukan sekolah formal kebidanan.
Mungkin, saya adalah sebagian kecil dari orang-orang yang
merasa salah masuk jurusan di awal. Akan tetapi, saya mencoba bertahan di
jurusan ini dan mengambil hikmahnya. Saya rasa, inilah cara
Tuhan mendidik saya untuk memiliki sifat feminim dan keibuan sebagai bekal untuk
menjadi ‘wanita’. Hanya di bidang ilmu ini kami diajarkan cara merawat
kesehatan khususnya kesehatan reproduksi selama masa remaja, kehamilan, nifas,
menopause dan merawat bayi. Ilmu ini dibutuhkan setiap perempuan baik yang belum
mengalami maupun sedang mengalami masa itu.
Terakhir dan tak kalah penting, bahwasannya, tidak ada ilmu
yang sia-sia. Semua pasti ada manfaatnya entah untuk diri kita sendiri maupun
orang lain. Tidak ada kata salah jurusan jika itu sudah menjadi pilihan karena pasti akan ada hikmah yang bisa dipetik dari itu semua.
Tulisan ini saya tutup dengan quote
favorit saya untuk memberdayakan sahabat-sahabat perempuan, khususnya para
calon bidan. Bunyinya, “Entah akan
berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan
tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan
melahirkan anak-anak yang cerdas” (Dian Sastrowardoyo).
Jadi, bagaimana? Masih merasa salah jurusan?

Wah di Kebidanan? Udah deket sama yang "Cowok Berseragam" belom, Kak? wkwkw
BalasHapusBiasanya yang jadi Bidan ketemunya sama Pria-pria Berseragam :p
Jauh juga yah antara bidan sm tentara, kecuali jodoh..
BalasHapus